Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 April 2012

Tone In Heaven


Ah… dimana aku ?
Aku terhenyut melihat keadaan disekitarku. Aku mendengar suara air terjun, namun aku tak tahu dimana letaknya. Tempat ini begitu indah. Kini aku sedang berdiri disuatu tempat, dimana tempat ini dikelilingi oleh bunga yang sangat cantik nan indah. Pohon-pohon tinggi nan hijau pun bertebaran disekelilingku. Aku melihat bunga mawar bertebaran. Melihat mawar ini mengingatkan ku pada suatu hal… Cassiopeia. Itu yang hanya aku fikirkan. Bunga mawar itu bertebaran sangat luas dan terang, sama persis ketika Cassiopeia berada dihadapan ku saat aku berada diatas panggung. Lalu aku tundukkan kepalaku “rumput yang rapih.”.  Kemudian aku terlentang diatas nya. Aku menatap syukur keatas langit. Sungguh atas karunia-Mu aku ada didunia ini. Suara air terjun itu pun semakin deras, membuat ku penasaran. Akupun melangkah mencari sumber suara air terjun itu. Akhirnya aku menemukan letak air terjun itu. Airnya sangat jernih dan bersih. “apakah ini surga ?”. aku terus menikmati pemandangan air terjun itu. Lalu aku melihat sesuatu yang aku sangat ingat kejadian itu… air terjun itu seperti merekam kegiatan ku bersama teman-temanku, ya! Saat itu kami berada di Saipan. Kami sedang berada di pinggir pantai, saat itu kami sedang membuat video “Picture Of You’ lagu yang ditulis oleh Junsu. “ah… aku merindukan momen itu.” “bisakah kami kembali seperti dulu, bermain bersama, tertawa, suka duka kami berbagi bersama, akankah semuanya bisa kembali seperti awal ? “. 

beddo suwatte kimi ni koto wo  kangaeteita 
aenakute mo ii aitai kono kimochi dake de ii kara

“ahh…sepertinya ada yang berteriak ? bukankah itu suara ???”  Aku sangat hafal suara itu. Itu suara changmin. Lalu aku membalikkan badan. “Jaejoong hyung, wasurenaide… I miss you… aitakute mo.”  Changmin menatap ku sesaat, ia tersenyum, lalu aku melangkah mendekatinya, aku ingin memeluknya, aku merindukannya… namun,,, tubuhnya menjauh, semakin aku mendekat, tubuhnya semakin menjauhi aku. Dan… ia menghilang. “mungkin ini halusinasiku saja.”  Kemudian aku menyusuri tempat ini, melihat ada sebuah ayunan diujung sana. Aku berjalan lurus menyusuri jalan setapak ini, “mungkin lebih menyenangkan bila aku berada disini bersama Yunho, Yoochun Junsu dan Changmin. Kita pasti  akan bermain sepuasnya.”  
***
Fukai fukai mune no kizu wo
Hitotsu hitotsu se owanaide
Dare mo kimi wo semeyashinai kimi wa kimi de ireba ii sa
Saat ini aku sedang berada diatas ayunan, aku duduk menikmati kesendirian ku. Aku merasakan seseorang berjalan dibelakangku. Aku merasa curiga. Aku pun membalikkan badan ku. Disaat itu sungguh mata ku terbelalak, dan bahagia, kedua ibuku ada disini, aku tidak lagi merasa kesepian. “Ibu ada disini juga ?” tanyaku pada kedua ibuku. Keduanya tersenyum. “Ya. Kami ingin menemani mu, tapi kami ingin menjemput seseorang, bisa kau tunggu disini?”. “tentu.” lalu kedua pergi menjauh, aku menunggu mereka disini sampai mereka datang.
“Yunho hyung, tangkap bolanya, jangan melamun.”
“ah ! baik .”
Aku mencari sumber suara itu. Itu suara Junsu dan Yunho. Suara itu terdengar jelas ditelinga ku. “Yoochun hyung, kita tidak boleh kalah dengan mereka.” “baik. Semangat Changmin-ah.” Dan itu Yoochun dan Changmin. Mereka semua ada disini ? ah. Sungguh sesuatu yang tidak bisa aku duga. Aku mencari-cari dimana mereka bermain bola. Ah mengapa mereka tidak mengajakku. Dan… sejak kapan Yoochun dan Junsu bertemu dengan Changmin dan Yunho ? mengapa mereka menyembunyikan semua ini. Apakah mereka diam-diam bertemu dengan Yunho dan Changmin ?.
I'll be there for you everyday 
“Jaejoong…” aku mendengar seseorang memanggil namaku. Yunho. Ya! Itu suara Yunho. Sang Leader. Betapa senangnya hatiku. Aku menoleh kearah nya. Dan sekarang Yunho  ada dihadapan ku. “Jaejoong…wasurenaide.” Lalu ia pun menghilang sama seperti Changmin, menjauh tanpa memberi kesempatan pada ku untuk menjawab ucapan mereka. Yunho-Changmin, tidak pernah ada dibenakku untuk melupakan kalian, aku juga merindukan kalian, kalian selalu datang dimimpiku, Junsu dan Yoochun pun sama seperti ku. Kalian datang dalam mimpi kami. “Yunho-Changmin ku mohon kembalilah, biarkan aku melihat kalian sekali lagi, biarkan aku memeluk kalian lagi, biarkan aku menangis dipundak kalian, kumohon  AKU SANGAT MERINDUKAN KALIAN.”
“Changmin!.”  Panggil Junsu.
”Junsu hyung. Yoochun hyung,!!.” Jawab Changmin.
“waah!! Yunho hyung!!.” Panggil Yoochun
Aku melihat mereka dari kejauhan… sangat jauh. Mereka berlari saling mendekati. Suara  mereka sangat jelas terdengar ditelingaku. Mereka berpelukan seperti halnya yang biasa kami lakukan, “mengapa mereka melakukannya tanpa aku ?” aku bisa melihat  kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah mereka, mereka semua melepas rindu-haru mereka.

And I am going to the right way for you
jeogi jeo haneul kkeutkkaji dallil geoya

Mereka berputar-putar sambil berpelukan…
“Jaejoong…” panggil ibu Han
“ah… ibu,” perasaan ku campur aduk melihat kedatangan kedua ibu ku.
“sudah lama menunggu…?” tanya ibu kim.
“hemm.. begitulah,”
“hemh..” ibu kim melihat ibu han.
“mungkin perasaannya kini campur aduk,” ucap ibu kim menatap ibu Han
“bagaimana ibu bisa tahu ?”
“karena kami adalah ibu mu.” Ujar ibu Han.
“Jaejoong, jangan pernah kau menyerah, tetaplah bekerja keras, gapailah mereka.” Ibu Han melihat kearah Yunho,Yoochun,Junsu dan Changmin.  
“aku tidak bisa.”
“jangan menyerah, kami selalu berdoa untuk mu. Jangan pernah merasa puas, ini semua belum apa-apa. Teruslah berjuang! raih mereka!.” Aku memeluk kedua ibu ku. “gomawo eomma… saranghaeyo.”  Ku pejamkan kedua mataku, aku rasakan kehangatan seorang ibu.

***
Waiting for rising sun
“hoooaammmm…”
“ahh.. ibu ada dimana? ibu ?...” aku terus memanggil dan mencari mereka. Tidak ada. Kosong. Yunho, Junsu Changmin dan Yoochun pun tidak ada. Aku sendirian. Lalu aku  mencuci muka, agar terlihat segar, aku berjalan menuju tempat air terjun tadi. Dan kau tahu ? air terjun itu tidak ada. Mungkin aku ada ditempat yang berbeda. Hanya ada taman dengan danau ditengah nya. Dan aku pun mendekati danau itu. Airnya hijau pekat, bersih tidak berlumut. Dan aku pun mencuci muka ku dengan air itu. Aku merasakan lagi seseorang berjalan dibelakang ku. Sekelompok orang datang kepadaku. Mereka semua datang menatap dingin padaku. Tidak ada senyuman yang terlihat dibibir mereka. Aku bahagia mereka datang kepada ku. Aku langsung berlari memeluk mereka. Tidak bisa. Mereka menjauh, sangaat jauh. Aku dekati lagi… mereka pun menjauh.. terus aku lakukan hal yang sama. Namun tetap saja mereka menjauh. “hey ada apa dengan kalian.” Tanya ku. Hampa. Tidak ada jawaban.  Mereka itu adalah Yunho, Yoochun, Junsu, Changmin Yoohwan, kedua ibuku, kakak-kakakku, adikku dan Cassiopeia. Yunho berada dipaling depan. “ah…kalian semua disini.” Sejenak aku mengedipkan mata, mereka semua menghilang. Tubuhku lemas tak berdaya. “Mengapa kalian semua seperti ini. Apa salah ku.Maafkan jika aku memiliki kesalahan pada kalian. Jangan seperti ini. “
“’ku mohon dengarkan aku…”

kaze ni natte sotto tsutsumitai 
kimi ga iru sekai ni sugutonde yukitai 
aitakutemo aitakutemo 
matterukara tada wasurenaide

menghilang … mereka kembali hilang. “ sudah kuduga…” lalu aku berjalan mendekat kearah danau.  sungguh aku ingin teriak. Aku sungguh ingin mengeluarkan seluruh isi hatiku. “HEY! MENGAPA KALIAN SEPERTI INI… KALIAN TAHU ? INI HANYA MENYAKITKAN HATI KU!!! INI HANYA AKAN TERUS MEMBUAT KU GILA !   JIKA KALIAN INGIN PERGI, PERGILAH! AKU MASIH BISA MENGHIDUPI DIRI KU. TANPA KALIAN AKU MASIH BISA HIDUP! AKU AKAN MENCARI KEHIDUPAN LAIN, AKU AKAN MEMPERBARUI SEGALANYA !”.

Suasana sepi. Tidak ada yang menjawab seorang pun. …

“Jaejoong-ah…” aku tahu itu… itu suara Yunho. “Jaejoong-ah, kumohon, jangan membalikkan badanmu, jika kau memaksakannya, kami tidak akan pernah kembali, aku akan pergi. Cukup dengarkan aku.” Aku hanya bisa menurut. Tak mampu aku melawan, aku tak bisa melawan egoku. Aku harus mendengarkannya. Hanya mendengarkannya, tanpa harus menatapnya. Mungkin aku sudah seperti orang gila. (saat Yunho mulai berbicara Jaejoong tak sadarkan diri).
“Jaejoong-ah, aku dan Changmin juga merindukan mu, kami juga merindukan Junsu dan Yoochun, aku juga merindukan hal-hal yang sudah biasa kita lakukan. Aku dan Changmin akan mengatakan ini pada kalian, jika kami bisa melakukannya. Saat perpisahan itu, kami sangat berharap kalian kembali pada kami. Namun apa daya semua telah kita putuskan dengan kepala dingin bukan ? seumur hidupku, aku takkan pernah menyesal mengenal kalian, kalian sudah seperti saudara kandung bagi ku. Kita sudah terlalu lama saling mengenal. Aku takkan pernah lupa dengan kenangan yang sudah kita buat bersama-sama dan juga bersama Cassiopeia. Cassiopeia ? masih ingatkah diri mu terhadap mereka ? tentu. Sudah kurang dari  7 tahun lamanya kita bersama dan membuat kenangan bersama mereka. Bahkan walau keadaannya sekarang berbeda, mereka tetap mendukung kita satu sama lain, dan Bigeast pun tetap mendukung kita, bukan begitu ? Jaejoong-ah, aku juga berdoa untuk kesuksesan kalian kedepannya, aku dan Changmin pun akan berusaha keras menjaga nama yang sudah membuat kita seperti ini. Aku akan berusaha keras, menjadi leader yang baik. Walaupun aku tidak bisa menjaga member ku dengan baik. Aku akan berjanji pada kalian, aku akan terus menjaga nama ini. Semoga kita bisa bersama lagi.”



#Changmin
“Jaejoong hyung? Bagaimana kabar mu saat ini ? aku lapar, berikan aku makan. Hahaha... mungin tidak sekarang, aku yakin kau pasti akan membuatkan ku makanan seperti dulu, membuatkan cemilan dimalam hari bersama dengan Yoochun hyung, ah... aku sangat merindukan moment itu. Jaejoong hyung, aku merindukan mu, aku sangat ingin memukul mu seperti dulu, aku ingin kau memelukku, selalu berada disisiku, sudah seperti ibu ku, namun aku lebih mencintai ibu yang melahirkanku =p. Oh ya.. bagaimana kabar Junsu hyung, apakah dia baik-baik saja ? apa bokongnya bertambah besar ? hahaha aku sangat ingin menggangu nya lagi. Aku tak ingin berkata lebih banyak, jagalah dirimu baik-baik hyung, jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja. Aku merindukan mu. Hyung, satu hal yang ingin aku katakan padamu. Jangan lupakan aku. Aku selalu mengingatmu dihati dan fikiranku.”

***
Pukul 03.00
JYJ’s apartement

“hyung, kau sudah bangun ?” tanya Junsu pada Jaejoong yang saja membuka matanya. Ia tidak menjawab.“semua itu hanya mimpi.” Gumam Jaejoong. Jaejoong pun meraba kening nya, kening nya berkerut. Ada apa dengannya ? mengapa ia dikompres. Lalu ia pun mengangkat tubuhnya untuk duduk. Disekitar nya ada Junsu dan Yoochun “hyung, apa kau baik-baik saja ?” tanya Yoochun kepada hyungnya yang dari tadi diam membeku tidak menjawab pertanyaan Junsu.
“aku... memimpikan Yunho… dan Changmin.”
“mwo ? mimpi yang indah bukan ?” seru Junsu
“bukan, itu mimpi yang menyedihkan.” Lalu ia pun menceritakan semua mimpinya barusan, Yoochun tertegun. Air mata Jaejoong pun mulai jatuh, ia tak bisa menahannya, ia tak kuasa.
“hyung, aku pun berharap dapat bertemu dengan mereka, kita sudah terlalu lama berpisah.” Ucap Junsu.
“mari kita mulai lagi dari awal, kita perbaiki semuanya, apapun yang terjadi kita harus selalu bersama.” Lalu mereka bertiga berpelukan. Menguatkan keyakinan, kepercayaan, kekuatan, kesetian satu sama lain.


THE END
Always Keep The Faith


Read More

Jumat, 13 April 2012

Piano


Dulu, rumah bercat hijau itu kami tinggali berempat. Aku, nenek, kakek, dan ibu. Kalau kau tanya di mana ayahku? Aku tak punya jawaban. Nenek pun tidak. Hanya ibu yang tahu persis siapa ayah kandungku. Dan aku pun tidak pernah berhasrat menanyakan perihal ayah kepadanya.
Sejak aku lahir, kakeklah figur ayah bagiku. Meski beliau yang tua dan rapuh lebih banyak tergolek di balai-balai daripada membawaku pergi ke taman bermain. Sesekali, beliau duduk di kursi goyang, sambil menyipitkan kedua matanya, berusaha memperhatikanku yang sedang disuapi oleh nenek. Penglihatan kakek memang terganggu. Tak lama sejak didiagnosa dokter menderita diabetes, beliau menderita glaukoma. Malam-malam, jika sedang kambuh, kakek akan terus mengerang dan mengeluhkan matanya yang sakit. Selang beberapa menit kemudian, beliau akan muntah-muntah dan tergolek lemah di balai-balai yang telah dilapisi matras.
Ketika nada erangan kakek mulai meninggi, aku hafal betul, nenek pasti akan memanggil dan memintaku untuk mengambilkan botol obat tetes mata bertuliskan Eserine di lemari tengah. Seusai menyelesaikan tugas kecil itu, aku kembali bergelung di ranjang. Dari balik korden kamar yang usang, aku selalu terharu memandangi nenek yang setia merawat kakek hingga fajar menjelang kemudian.
***
Ibuku, kau tahu? Dia sangat cantik. Suaranya merdu. Rambutnya yang sepunggung, hitam legam bak bulu gagak. Setiap wanita pasti akan iri saat memandang wajahnya yang jelita. Setiap lelaki pasti akan jatuh cinta melihat lekuk tubuhnya yang molek. Namun, menurut pendapatku, ia tak lebih dari seorang wanita tolol. Kecantikan dan suaranya yang mendayu, hanya bisa mengantarkannya menjadi biduanita kelas teri. Bersama grup musik keliling, ia menyanyi dari desa ke desa. Kata nenek, ketika masih belia, banyak pemuda bersahaja datang melamarnya. Namun, ia justru jatuh cinta pada seorang lelaki tak beridentitas. Percintaan ibu dengan lelaki itu pun membuahkanku. Tanpa nama ayah di surat kelahiran, aku pun menghirup udara dunia yang tak seramah rahim ibu.
Ketika aku berumur empat tahun, reputasi ibu sebagai biduan naik daun. Ia tak lagi menyanyi di panggung keliling, melainkan menjadi penyanyi tetap di sebuah bar di Yogyakarta. Awalnya, ibu pulang seminggu sekali, dengan membawa banyak hadiah untukku. Lama-lama ibu pulang sebulan sekali, lalu tiga bulan sekali, dan akhirnya aku tak lagi bisa menghitung berapa lama ibu pergi.
“Aku tidak mau boneka lagi! Aku mau ibu di sini!” aku ingat, usiaku lima tahun saat aku menangis menjerit-jerit, menyaksikan ibu beranjak pergi dari pintu rumah untuk kesekian kali.
“Ibu pergi agar kau bisa sekolah saat kau besar nanti,” bujuknya lembut.
“Aku tidak mau sekolah. Aku hanya mau ibu!” teriakanku makin melengking.
***
“Mbak, belok ke kanan atau ke kiri?” suara sopir taksi membuyarkan lamunanku.
“Ke kiri, Pak! Nanti di sebelah kiri, ada gapura warna hitam, masuk kira-kira dua ratus meter,” jawabku dengan suara berat.
Taksi yang kutumpangi dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, semakin mendekati rumah nenek yang terlihat mulai lapuk dan mengelupas catnya di mana-mana. Rumah itu kini hanya dihuni oleh nenek seorang. Kakekku sudah meninggal jauh sebelum aku meninggalkan rumah. Beberapa bulan kemudian, ibuku pun meninggal. Saat itu, aku baru menginjak usia dua belas. Sanak saudara berdatangan untuk berbela sungkawa. Termasuk adik nenek yang menikah dengan seorang prajurit Belanda dan tinggal di Groningen, Belanda. Tepat tujuh hari setelah ibu meninggal, aku ikut adik nenek untuk bersekolah dan tinggal di negeri kincir angin itu.
***
Ketika taksi berhenti di depan rumah, nenek sedang sibuk dengan rajutan dan setumpuk benang wol di pangkuannya. Wanita tua itu terkesiap melihatku turun dari taksi. Sontak, ia bangkit dari kursi goyangnya, dan berlari kecil menghampiriku. Ada segunung kerinduan yang terpancar dari kedua bola matanya yang terbingkai kacamata presbiopi.
“Mala! Oh….Mala cucuku!” serunya berbaur dengan suara tangis mengharu biru. “Rasanya lama sekali nenek menunggumu pulang, Mala. Kau sekarang betul-betul sudah dewasa,” lanjut nenek sambil menyeka air matanya.
“Aku merindukan nenek,” balasku sambil memeluk tubuh rentanya.
“Syukurlah, kini kau sudah pulang,” ujarnya sambil mengelus rambutku. Kerinduan kami selama sepuluh tahun pun melebur ke dalam sebuah pelukan hangat tiada tara.
Malam harinya, aku tiduran di pangkuan nenek. Nyaman rasanya. Kuhirup dalam-dalam aroma khas kain jarit yang dipakai oleh nenek. Masih sama seperti dulu.
“Kau tak ingin menjenguk Kus?” pertanyaan nenek membuatku tersentak.
“Om Kus?” tanyaku datar.
“Semestinya kau menjenguknya, Mala. Dulu kau sangat sayang padanya bukan? Datanglah ke pondoknya esok pagi, sebelum ia berobat,”
“Berobat?”
***
Keesokan paginya, aku mengunjungi lelaki yang nenek sebut dengan nama Kus. Sewaktu kecil dulu, aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan Om Koko. Jika kebetulan ia menjadi wali yang mengambil raporku di sekolah, dengan bangga aku akan memperkenalkannya kepada teman-temanku sambil menyebutkan nama lengkapnya, yang hanya terdiri dari satu suku kata. Kuswidiatmoko.
Kata para tetangga, Om Koko adalah kekasih ibu. Mereka saling jatuh cinta karena Om Koko selalu mengiringi ibu menyanyi di panggung dengan piano klasiknya. Meski aku menyayangi lelaki bertubuh atletis itu, tapi aku sama sekali tidak berharap kelak ia menjadi ayah tiriku.
Pondok Om Koko sangat teduh. Dikelilingi oleh pagar kayu yang dililit oleh bunga Alamanda. Sayup-sayup kudengar suara tuts piano beradu dengan pedal. Permainan itu amat akrab di telingaku. Meski terlambat mendengarkan untaian nada-nada itu, tetapi aku hafal judulnya di luar kepala. Tristesse, gubahan Frederic Chopin, komposer favorit Om Koko.
***
“Om, bisakah suatu saat nanti aku bermain piano seperti Om?” tanyaku padanya ketika usiaku masih sepuluh tahun. Tubuhku yang mungil tampak tenggelam saat berdiri di samping grand piano akustik berwarna hitam mengkilat milik Om Koko.
“Tentu saja kamu bisa,” jawabnya meyakinkan.
“Mainkan satu lagu untukku, Om! Aku juga ingin memainkannya dalam mimpiku nanti,” ujarku sembari melemparkan novel berjudul ’Buku Catatan Josephine’ yang belum selesai kubaca ke sofa.
“Mmmm…baiklah. Om mainkan sebuah lagu pengantar tidur untukmu,” bisiknya penuh sayang. Aku menyandarkan tubuhku di sofa, bersiap mendengarkan dia memainkan jemarinya di atas tuts gradded hammeryang tebal dan kokoh.
“Apa judulnya?”
“Tristesse,” jawabnya lembut.
“Tristesse?” tanyaku sambil berusaha mengeja.
“Ya, Tristesse. Kata itu berasal dari bahasa Perancis, yang artinya kesedihan. Komposisi ini juga dikenal dengan sebutan Etude Op. 10 No 3,” tutur Om Koko sambil tersenyum. Kedua lesung pipinya terlihat semakin cekung, menghiasi wajah tampannya yang terbungkus oleh jambang samar.
Perlahan, alunan Tristesse mengantarkanku ke dunia bawah sadar. Anehnya, ketika aku terlelap sembari mendengarkan melodi itu dengan cermat, aku memimpikan diriku sendiri memainkannya. Jemari tanganku yang lentik dan lincah menari-nari di atas tuts piano. Sejenak, aku pun melupakan Eserine, nama obat tetes mata kakek yang baru saja kutemukan di novel yang beberapa menit lalu menyita perhatianku.
***
Aku terhenyak. Peristiwa bertahun silam itu melesat cepat menembus memoriku. Kuayunkan satu langkah kaki mendekati pintu bercat cokelat di hadapanku. Aku mengintip dari jendela. Mataku terpaku pada sosok lelaki dengan helai-helai rambut berwarna kelabu.
“Permisi!” seruanku ternyata tak membuat lelaki itu berhenti memainkan Tristesse. Agaknya, ia terlampau menikmati setiap gerakan jarinya yang menekan tuts-tuts berat piano Steinway di hadapannya.
“Permisi!” seruku sekali lagi dengan nada sedikit kutinggikan.
Tampak seorang wanita paruh baya menghampiri pintu sambil mengelap tangannya dengan celemek yang melilit perutnya. Wanita itu membukakan pintu untukku. Sesaat, ia terdiam sambil berusaha mencermati wajahku.
“Kumala…kaukah itu?” seru si wanita seolah tak percaya.
“Iya, ini aku, Mak!” balasku bersemangat.
“Mala, Emak sangat merindukanmu,” ujar wanita bertubuh kurus itu sambil mendekapku erat. “Kau betul-betul sudah dewasa Mala. Dan kau amat mirip dengan Maya, ibumu,” lanjutnya. Aku pun hanya tersenyum tipis mendengar kalimat yang terlontar dari bibirnya.
Dulu, Mak Min atau yang kerap kupanggil Emak itu sering datang untuk mengasuhku, jika kebetulan nenek sedang repot mengurus kakek yang sakit-sakitan.
“Sejak kapan Mak Min bekerja di pondok ini?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Sejak ibumu meninggal dan kamu pergi ke negara kompeni, Emak ikut Den Kus. Apalagi sejak kehilangan Maya, ibumu, pikiran Den Kus jadi agak terganggu. Tubuhnya juga jadi sakit-sakitan. Keluarga Den Kus lalu mengupah Emak untuk mengurusnya karena tak sanggup merawatnya sendiri.”
“Jadi, karena itu Om Koko harus berobat?”
“Iya, setiap sebulan sekali Den Kus menjalani terapi kejiwaan. Selain itu juga harus bolak-balik rumah sakit untuk berobat lambungnya yang terkena infeksi.”
“Infeksi?”
“Kata dokter, lambung Den Kus mengalami infeksi kronis. Kalau penyakit pikirannya sedang kambuh, ia bisa tak makan selama berhari-hari. Jadi lambungnya pun ikut-ikutan rusak,” ujar Mak Min prihatin.
Ketika aku dan Mak Min sedang serius berbincang, tiba-tiba dari balik untaian korden manik-manik muncul seorang lelaki paruh baya berwajah kuyu.
“Mak, siapa yang datang?” seru lelaki itu dengan suara parau“Eh, ini Den! Ada tamu ingin menjenguk Aden,” jawab Emak dengan nada serba salah. Mungkin Emak takut membangkitkan kenangan pahit Om Koko akan masa lalunya bersama wanita yang ia cintai, yang tak lain adalah ibuku sendiri.“Maya?” seru Om Koko ketika melihat bayangan tubuhku mendekatinya.“Bukan, Om aku Kumala bukan Maya. Om sudah lupa padaku?”“Maya! Maya, aku sangat merindukanmu,” jawab Om Koko sambil berusaha memeluk tubuhku.Mendadak aku tak mampu membendung air mata yang terus saja menganaksungai di kedua pipiku. Aku sadar, aku menangis bukan karena sedih mengenang ibuku, melainkan kecewa karena Om Koko terus saja menganggapku sebagai dirinya.

***

Sepuluh tahun yang lalu. Suatu hari, dari balik jendela pondok Om Koko, kulihat ibuku yang cantik jelita duduk di sampingnya menghadap piano. Ibu dengan sepasang tangannya yang berkulit kuning langsat, lengkap dengan sepuluh jemari lentiknya, memainkan tuts-tuts piano. Di banding seminggu sebelumnya, permainan piano ibu kali itu sudah lebih baik. Om Koko bersorak girang sambil mencium kening ibu, ketika ibu berhasil memainkan sebuah lagu dengan kunci accord sederhana.Aku tidak menyukai pemandangan mesra itu! Aku benci karena ibu bisa belajar bermain piano bersama Om Koko, sedangkan aku tidak. Kebencian itu semakin tak terkendali tatkala kupandangi kedua lenganku yang hanya sebatas siku orang normal, dengan dua tonjolan daging yang lebih mirip kue kaastengels dibanding ibu jari dan kelingking.Aku tidak bisa belajar bermain piano, itu salah ibu! Aku bisa berkata begitu karena aku kerap mendengar para tetangga bergunjing. Kata mereka, aku cacat akibat ibu yang pernah berusaha keras menggugurkanku ketika masih dalam kandungan. Tapi, kini aku cukup puas karena takdir berkata lain. Aku tidak mati di tangan ibu, melainkan sebaliknya.

Mungkin hanya nenek satu-satunya yang menyadari, kalau ibu meninggal setelah meminum sirup lemon yang kubawakan untuknya. Sirup lemon yang sudah kucampur dengan banyak-banyak Eserine, sisa obat glaukoma kakek yang tertinggal di lemari. Untuk itulah, nenek mengirimku jauh ke Belanda, agar tak ada yang bisa menyalahkanku atas kematian ibu.

Mungkin aku harus berterima kasih pada Josephine, tokoh gadis berusia dua belas tahun yang ada di novel yang kubaca itu. Atau sebetulnya, ibulah yang menyebabkan kematiannya sendiri, karena dialah yang menghadiahiku novel itu. Jadi, bukan salahku kalau aku meniru cara Josephine yang meracuni kakeknya, Aristide Leonides, dengan obat tetes mata yang namanya sama dengan obat kakek.Sayang sekali, ibu memang tak pernah menyadari telah melahirkan anak cacat yang kelewat cerdas, sehingga aku pun berhasil meracuninya dengan obat tetes mata itu. Dan dengan begitu, aku bisa memiliki Om Koko untuk selamanya, tanpa ada ibu sebagai pengganggu.Kebon Jeruk,source : http://cerpenkompas.wordpress.com/?s=piano+

Read More

Aokigahara


Tahun demi tahun semakin banyak saja orang Jepang yang bunuh diri di hutan ini. Aokigahara. Tempat favorit bagi mereka yang ingin bunuh diri. Yah… aku tidak akan mengeluh, karena bagaimanapun juga, semakin banyak mereka yang mati berarti pendapatanku semakin bertambah.
Orang Jepang menyebut hutan ini sebagai ”hutan bunuh diri” sehingga mau tak mau tak jarang orang berpersepsi keliru mengenai orang-orang yang datang ke hutan ini. Aku datang ke sini bukan sebagai turis entah untuk menikmati pemandangan gunung Fuji di sebelah barat ataupun suasana mistis yang hanya dimiliki oleh tempat di mana ratusan bahkan ribuan nyawa melayang di lokasi yang sama.
Aku datang untuk mencari nafkah. Untuk bertahan hidup. Seperti yang telah kuamati selama ini, malam-malam pada perayaan seperti tahun baru inilah yang biasanya digunakan oleh sebagian orang Jepang untuk mengakhiri nyawanya sendiri. Di tengah tawa dan pesta penduduknya, ada segelintir orang yang mengasingkan diri dan merasa bahwa saat itulah… saat terbaik untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia.
Kupikir aku datang terlalu cepat, tapi ternyata sudah ada klien yang pergi ke dunia sana. Pria itu tergantung pada sebatang pohon dengan menggunakan ikat pinggangnya. Aku memeriksa denyut nadinya dan merasakan mayatnya masih hangat. Aku menunggu satu dua menit karena tidak ingin mengganggu perjalanannya ke alam sana. Setelah itu aku merangkapkan kedua tanganku di depan dada—meniru pengikut-pengikut Buddha yang biasanya sembahyang di kuil-kuil.
Lima puluh tahun di bawah langit! Lima puluh tahun di bawah langit!” bisikku berdoa.
”Aku tak minta hidup lama-lama. Cukup berikan aku lima puluh tahun di bawah langit saja. Maafkan aku. Aku akan membakar dupa untukmu besok. Aku janji,” doaku khusyuk. Setelah itu aku menurunkannya dan membaringkan mayat pria itu di tanah. Aku mempunyai kode etik untuk selalu mencari tahu nama mayat yang sedang kujarah sebelum mengambil barang-barang peninggalannya. Menurutku adalah suatu hal yang ironis apabila tidak berusaha mencari tahu nama mereka yang sudah mati, padahal selama hidup pun mereka juga diabaikan.
Aku mengeluarkan KTP dari dompetnya. Ken’ichi Matsuyama, 32 tahun. Dua kali lipat dari usiaku. Masih ada delapan belas tahun sisa hidupnya, tapi ia memilih mengakhirinya malam ini. Aku tidak terlalu berharap pada uang tunai klien-kilenku karena biasanya kebanyakan alasan mereka bunuh diri adalah karena kekurangan uang. Namun aku terkejut ketika menemukan 58.000 yen di dalam dompetnya. Aku buru-buru mengambil setengahnya dan menyisakan sebagian pada kolegaku yang lain.
Walaupun disebut kolega, sebenarnya kami belum bertemu satu sama lain. Orang Jepang adalah orang yang memiliki kehormatan yang tinggi sehingga mereka merasa amat malu apabila ada orang lain yang mengetahui pekerjaan mereka yang hina ini. Bagi mereka, lebih baik mati daripada harus hidup menanggung aib karena ada orang lain yang tahu bagaimana cara mereka bertahan hidup.
Hal itu kupelajari setelah tanpa sengaja bertemu dengan pemulung lain, seorang bocah berusia 12 tahun yang mungkin disuruh orangtuanya. Bukannya mengancam layaknya binatang buas agar aku tidak mendekati bangkai yang sedang dijarahnya, dia malah meninggalkan hasil rampasannya dan kabur begitu melihatku.
Di kemudian hari, aku mengetahui dari koran bekas bahwa bocah itu gantung diri tak lama setelah bertemu denganku. Aku berpikir benarkah bocah seusia itu merasa harus mempertahankan kehormatan keluarganya ataukah kematiannya itu pun adalah perintah dari ayahnya yang merasa anaknya sudah membawa aib?
Misteri itu tidak pernah terpecahkan dan aku menyesal harus bertemu dengan bocah itu. Sejak saat itu aku menajamkan pendengaranku dan berusaha membuat sedikit suara setiap kali sedang menjarah. Kami biasanya memberi kesempatan pada yang datang duluan.
Aku mengambil kartu kredit milik Ken’ichi. Tiket kereta api berlangganan, SIM, dan juga jam tangannya. Suara gemerisik rumput di belakangku membuatku bereaksi dan menoleh ke belakang.
”Haaanttuuu,” pekikku tertahan.
Biar kujelaskan. Jangan dulu katakan aku ini pengecut, ok?
Aku sudah terlalu terbiasa melakukan pekerjaan ini sehingga tida ada perasaan takut dalam diriku untuk bertemu hantu mereka yang bunuh diri. Sebaliknya, seperti yang kuceritakan tadi, aku justru takut bertemu manusia-manusia sepertiku yang berusaha bertahan hidup dari peninggalan mereka yang memilih mati.
Hanya saja gadis itu terlalu cantik untuk seorang manusia. Kecantikan yang kupikir hanya bisa ditiru siluman atau hantu untuk memperdaya manusia. Aku sudah menyiapkan mentalku untuk bertemu setan-setan yang bonyok di wajah dan mengucurkan darah sehingga sama sekali tidak siap memandang kecantikan surgawi yang terpancar dalam diri gadis itu.
Rambutnya yang panjang menjuntai di samping pelipisnya. Dia pun memakai kimono putih yang indah bersulam burung-burung bangau yang terbang ke selatan. Wajahnya tampak dibedaki tipis-tipis dan bibirnya diberi pewarna merah yang menandakan bahwa ia telah beranjak usia akil balig.
”Memalukan sekali!” bibirnya yang mengerucut dan senyum sinisnya itu mengembalikan aku pada dunia nyata.
”Hidup dari jerih payah orang-orang yang sudah mati. Kau benar-benar memalukan!” ulang gadis itu memancing reaksiku.
Aku tahu seharusnya aku berbalik dan kabur seperti yang dilakukan bocah itu dan kembali ke sini esok malam untuk menggantung diri di salah satu pohon. Hanya saja aku bukan orang Jepang dan tidak mempunyai mental orang Jepang meskipun aku mengagumi kebudayaan mereka.
”Mereka mati itu pilihan mereka. Aku hidup itu pilihanku sekalipun dengan cara ini.” Wajahku terbakar rasa malu yang luar biasa ketika mengatakan hal itu.
Gadis itu mengerutkan kening sedikit. Wajahnya terlalu anggun untuk mengekspresikan rasa jijik yang ia rasakan pada diriku sehingga hajya melalui matanya aku tahu ia menatapku dengan hina dan jijik.
Ia tak berkata apa-apa lagi dan hanya melepaskan giwangnya dan memberikannya padaku. Sebagai penadah barang curian aku tahu giwang hijau itu terbuat dari mutu yang bagus. Aku terlalu sibuk menaksir harganya sehingga tidak menyadari situasi yang sedang kualami.
”Untuk apa ini?” tanyaku seperti orang bodoh.
”Aku tidak ingin kau menjamah tubuhku ketika aku sudah mati. Hanya ini yang kupunyai. Ambillah!” jawab gadis itu.
”Kau tidak bawa uang?” tanyaku spontan.
Gadis itu tergeragap mendengar pertanyaanku yang kurang ajar, tidak manusiawi, dan tidak pada tempatnya. Ia melepaskan kalungnya yang dibandulnya terdapat sebuah kantung kecil.
”Di dalamnya ada sekeping uang logam zaman dulu. Pemberian dari kakekku. Kupakai sebagai jimat dan mungkin cukup ampuh untuk mengusir hantu sepertiku jika kita bertemu lagi.”
Aku berani bersumpah bahwa ia tersenyum kecil sewaktu menyindirku tadi! Jika hujan tidak segera turun, aku yakin sebentar lagi ubun-ubun kepalaku akan mengeluarkan asap.
Aku tak tahu harus berkata apa sehingga aku hanya menganggukkan kepala kepadanya. Dengan raut sedih ia membalas anggukanku dan berbalik menuju jalan yang dipilihnya.
Dua-tiga langkah kemudian ia berbalik padaku dan berkata dengan tajam, ”Ingat! Jangan menyentuhku atau aku akan menggentayangimu, ok!?” gadis itu mengedipkan matanya padaku.
Aku terlalu percaya takhayul bahwa permintaan orang yang akan meninggal harus dipenuhi dan perintahnya harus dipatuhi sehingga kedipan itu pun tidak dapat membuat hatiku tenang.
Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku bukan seorang nekrofil (aku memang tidak terdidik, tapi aku tahu arti kata itu) dan tidak memiliki minat pada mayat yang secantik apa pun—meskipun aku sedikit berharap dia berbuat sedikit kebaikan di akhir hidupnya dengan memberiku kecupan selamat tinggal.
Terakhir kali aku melihatnya, dia sedang berusaha mengaitkan ikat pinggang kimononya pada sebuah cabang pohon. Membentuk sebuah simpul. Aku melayangkan pandanganku dengan sedih dan berbalik berjalan di jalan kehidupan yang sulit.
”Kosong adalah isi. Isi adalah kosong,” aku berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk berusaha tampak bijak dan arif seperti pendeta-pendeta tao zaman dulu.
”Pertemuan adalah perpisahan. Akhirku adalah permulaanku,” ceracauku tak jelas. Sedetik setelah itu, aku dikejutkan sedemikian rupa oleh gadis itu yang tiba-tiba muncul di depanku sehingga aku terlompat mundur beberapa langkah ke belakang.
”Bagaimana bisa? Tadi kau di belakangku!” kataku padanya.
Gadis itu tersenyum. Senyum yang manis dan menghanyutkanku.
”Aku mengenal hutan ini lebih baik darimu.”
”Ta-tapi…,” aku hendak protes sewaktu gadis itu merapatkan bibirnya pada bibirku. Rasanya basah, dingin dan hmm… tak bisa kujelaskan.
Lidahku kelu sehingga tak dapat menanyakan untuk apa ciuman itu.
”Mengapa kau tidak berusaha menyelamatkanku?” tanyanya merajuk padaku.
”Aku, aku tidak tahu kau ingin diselamatkan. Kupikir kau memang sudah berbulat hati memilih jalan itu.”
”Kauu jahattt!” ia memukulkan tangannya yang kecil pada dadaku dan merebahkan kepalanya pada pundakku.
Aku membelai rambutnya yang halus. ”Kau tidak jadi mati?” tanyaku, lagi-lagi salah ucap. Kugigit lidahku.
”Kau ingin aku mati?” dia tiba-tiba menarik kepalanya dan menatapku dengan serius.
”Bu, bukan begitu! Maksudku, aku bingung apa yang membuatmu mengubah keputusanmu?”
Air matanya bergulir sewaktu dia menjawab pertanyaanku.
”Tidak ada yang peduli padaku,” katanya. ”Seumur hidupku tidak ada yang peduli padaku. Aku ingin ada seorang saja yang peduli padaku jika aku berusaha bunuh diri.”
Sorot matanya tampak seperti anak kucing yang tercebur di sungai dan minta pertolongan. Tanpa sadar aku telah mengulurkan tangan untuk merengkuhnya dan mendekapnya dalam pelukanku.
”A-aku peduliii…,” kataku dengan gugup dan malu.
”Benarkah?” matanya menatap lekat padaku, seolah sedang mencari jejak-jejak kebohongan.
”Ya,” jawabku pendek untuk mengukuhkan suatu komitmen.
Gadis itu tersenyum dan membenamkan wajahnya di bahuku. Tangannya mencari tanganku dan menggenggamnya. Kemudian tiba-tiba dia membuka telapak tanganku dan mengambil giwang dan kalung miliknya.
”Kau sudah memiliki aku, jadi tak membutuhkan ini!” katanya seraya melemparkan benda-benda miliknya itu ke kedalaman hutan. Apakah dia sedang berusaha menghapus masa lalunya? Entahlah.
Malam itu kami berjalan bergandengan tangan dan aku merasa jalan pulang yang kulalui telah berubah dan membentuk sebuah cabang baru. Sebuah perasaan aneh dalam diriku membuatku berbalik dan menatap hutan Aokigahara—yang entah kenapa kurasakan untuk yang terakhir kalinya. Hutan yang telah menelan banyak korban. Bahkan orang-orang asing dari benua Eropa pun tertarik dengan keeksotisan hutan ini dan memilih mengakhiri hidupnya di sini.
Mungkinkah hutan ini sudah insaf dan ingin bertobat? Ataukah kisahku hanya salah satu dari sedikit cerita yang belum dikonsumsi umum bahwa di samping meminta banyak kematian, hutan ini juga mampu memberikan kehidupan?
Entahlah. Aku tidak tahu dan aku tidak yakin dengan tapak langkahku di jalan baru ini. Aku tidak yakin hutan ini dapat menghidupi kami berdua. Atau bertiga.
Aku harus mencari pekerjaan lain.
Read More

Jumat, 06 April 2012

White Lies


Pada suatu malam…
“ hyung aku sangat lapar…” eluh changmin.
“ youngwong hyung sedang keluar, bagaimana kalau kita makan diluar saja?” tawar junsu.
“ah~ tapi saat ini aku tidak ingin keluar.”
“ehm..” kenapa anak ini manja sekali pikir junsu. “bagaimana kalo aku masakkan mie instant untuk mu ?”
“aniyo. Itu tidak membuat perut ku sehat.”
“hanya ada itu, bagaimana ?”
“baiklah.”
*   *  *
Pukul 09.00.
“hey kalian bangun, Jaejoong, Junsu, Changmin, Yoochun… bangunn, hey.. bey.” Perintah Yunho sambil menggoyangkan tubuh para member. Jaejoong dan Changmin sudah membuka mata mereka. Mereka berdua sedang mengerjapkan mata mereka ‘mengumpulkan nyawa’.  Sedangkan junsu, begitu melihat jam, matanya langsung terbelalak.   
“aigooo… aku telat.”
Junsu langsung memasuki kamar mandi yang sedang kosong. Sedangkan Yoochun yang blum bisa bangun dan masih memeluk bantal guling. Tanpa mata terbuka, Ia bangun dan langsung menuju pintu kamar mandi. Lalu ia membuka pintu kamar mandi yang seperti nya tidak dikunci oleh Junsu. Saat ia memasuki daerah closet, junsu berbalik badan.
“ ANDWAEEEEEEE!!! ” teriak Junsu. Yoochun terbelalak. Mata nya langsung terbuka saat dikamar mandi ada orang. Lalu Junsu langsung mendorong Yoochun keluar dan langsung mengunci pintu kamar mandi.
“aniyooo … tidak terjadi apa-apa” junsu mengeleng-geleng kepalanya.
“ Junsu-ah~ ayolah cepat sedikit,  atau biarkan aku ikut didalam.”
Sementara Yoochun dan Junsu saling menggedor-gedor pintu kamar mandi Changmin yang baru selesai ‘mengumpulkan nyawanya’ kemudian berjalan menuju kamar mandi bawah. Sedangkan Jaejoong yang sudah sadar sejak dari tadi langsung menyiapkan sarapan untuk semua member yang dibantu oleh Yunho. Setelah selesai berpakaian Junsu pun langsung pamit kepada seluruh member, sebelumnya diminta Jaejoong untuk makan dulu, tetapi Junsu menolak, ia bilang, ia akan makan diluar. Ia sudah mendapat izin dari manajer bahwa hari ini ia akan keluar. Setelah itu, Ia menuju pintu keluar.

***
Udara saat ini sangat dingin, Ia menggunakan baju tebal untuk menghangatkan tubuhnya. Agar ia tidak begitu dikenal, ia menggunakan kaca mata coklat, rambut cepak poni, dan ia juga menggunakan penutup telinga.
“ah… masih ada 10 menit lagi.” Ia menyusuri jalan yang ramai  akan pengguna jalan. Kemudian ia menyebrangi perempatan jalan kota. Lalu ia berjalan menuju belokan disebelah kanan. Dan saat itu ia sudah sampai ditempat yang ditujunya.
***
Pukul 11.00
SMILE CAFE
“ada yang ingin kau pesan ?” tawar Junsu
“tentu, aku tidak ada akan disini jika bukan untuk makan.” Jawab salah seorang yeoja yang sekarang ada dihadapannya sambil tertawa. Ponsel Junsu bergetar. Lalu ia permisi untuk menerima telepon. “ yeoboseyo ?” sapanya .
“ hyung, kapan pulang ? aku bosan, disini aku sendiri.”
“Changmin ah~. Aku baru saja ingin makan dengan…” ucapannya langsung saja dipotong oleh Changmin. “mwo ? makan ?? dimana ? aku akan kesana“ tuuuttt… Changmin menutup telpon nya.
“ah… pasti dia sudah tahu.” Eluh Junsu. Junsu kadang terheran-heran dengan sikap magnaenya ini terhadap makanan, kenapa Changmin begitu kuat soal makan makanan. Perlahan ia tersenyum mengingat ulah magnaenya ini. Otak nya terlalu pintar, ia membutuhkan banyak makanan agar otaknya tetap berjalan dengan lancar.  
“Hannah…” panggil Junsu kepaa yeoja itu yang sedang menunggu sambil memainkan ponselnya.
“hmmm..” gumamnya.
“apa tidak apa-apa jika aku membawa seorang teman untuk makan bersama  kita disini ?”
“hmm ? memangnya kau sudah punya janji dengannya sebelum dengan ku ?” tanya Hannah heran.
“oh, aniyo… Dia Changmin, Ia sendirian ditempat kami, Ia sendirian, itu membuatnya bosan. “
“haha.. sepertinya mudah untuk ku bertemu dengan kalian semua, Raja Musik Korea , bukan begitu ?” puji Hannah sambil tertawa.
“ani… pujian mu terlalu berlebihan.” Balas Junsu tersenyum.
***

“ah..~ ternyata dia disini.” Tangkap Yunho
“hey.. bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Changmin ?” seru Jaejoong. Mereka ber-3 ini bersembunyi di tong biru disamping café. “Changmin sudah besar, tidak akan terjadi apapun dengannya.” Jawab Yunho.
Sudah fokuskan saja pada Junsu.“ lanjutnya. Tiga member ini tertua ini mengikuti Junsu setelah selesai sarapan tadi. Yunho yang mengusulkan ini. Karena saat itu ia sangat penasaran sekali. Karena ia merasa tidak biasa Junsu bersikap seperti ini, malu-malu saat pamit. Mereka pergi tidak bersama-sama. Agar Changmin tidak curiga. Mereka pergi sendiri-sendiri dengan berbagai alasan. Dan mereka berjanji bertemu di perempatan jalan.
“siapa wanita cantik itu, membuat ku envy saja.” Tunjuk Yoochun sambil protes. “hey, bukankah kau sudah memiliki banyak mantan pacar, bergitu saja cemburu.” Jaejoong tertawa. Yoochun terkekeh.

***
Junsu dan Hannah berjalan ke pintu keluar. “junsu-shi, ada yang ingin aku bicarakan.” Junsu menoleh, menatap wajah yeoja cantik itu. “hemm ?? apa itu ? bicara saja.” Jawab nya. “tetapi bukan disini, kita harus ke suatu tempat, tidak jauh dari sini.” Junsu mengikuti arah langkah kaki Hannah. Ia terheran-heran dengan yeoja ini, Ia merasa pernah melewati jalan ini. Tpi kemana …?? Disuatu tempat dimana Junsu pernah mengatakan sesuatu kepada Hannah.
“Bukankah sepertinya kita pernah ketempat ini ?” ujar Junsu
“ne. ditempat ini kau mengakatan cinta kepada ku.” Ujar Hannah. Junsu tersenyum malu. “karena itu, aku ingin menyelesaikan semuanya.”
“semuanya ? maksud mu ?”
“aku belum menjawabnya bukan ?” Junsu mengangguk. “dan jawaban ku…” ucap Hannah gugup.
***
Pada saat Junsu dan Hannah keluar ke-3 member itu pun mengikuti jejak mereka. Saat mereka membalikkan badan. GUBBBRAAAGGGKK !!!
“hyung !!!” GEP  ! Yoochun langsung membekap mulut Changmin.
“sssttt” desis jaejoong.
“ada yang kalian lakukan disini ?” tanya Changmin.
“lalu bagaimana dengan mu, apa yang kau lakukan disini ?” Tanya Yoochun
“aku ingin makan dengan Junsu Hyung, karena kalian tega nya meninggalkan ku sendiri.” Ucap changmin cemberut.
“lihat disana” lanjut nya sambil menunjuk kearah Junsu. “mwo ?” Changmin kaget. DUGGH. Pukul Jaejoong.
“hyung sakit.” Erang Changmin.
“pelankan suara mu.” Tegur Yunho.
“hyung kalian seperti ingin mencuri saja, mengendap-ngendap.” Protes Changmin. “mencuri perhatian bukan masalah, kan ??” Yoochun tersenyum.
“kalian ini berisik sekali. Lihat ! kemana Junsu dan Yeoja cantik itu.” Erang Yunho. “sudah, ikut aku.” Seru Jaejoong.
“sepertinya aku tahu arah tujuan mereka.” Komentar changmin.
Semua member pun telah sampai ketempat Junsu dan Hannah berada. Mereka semua bersembunyi di samping mobil-mobil truk sedang agar tidak ketahuan.
“apa yang mereka lakukan mereka di parkiran ini ?” pikir Yoochun bertanya-tanya. Tanpa peduli dengan pertanyaan Yoochun, ketiga member ini pun memfokuskan diri kepada Junsu.
“jeomal mianhae, Junsu-shi.” Junsu terdiam. “aku juga sulit mengatakannya pada mu… pada saat kau menyatakan cinta kepadaku, sebelumnya aku baru saja……” ucapnya tebata-bata. Hannah menahan nafas, menguatkan dirinya untuk melanjutkan ucapannya. “ak..ak..akuu.. baru saja selesai bertunangan dengan … Eunhyuk-shi.” Junsu terpana mendengar jawaban Hannah. “aku sungguh ingin mengatakannya dari awal kepadamu, tetapi.. kau…”
“waeyo..??”
“Jeomal mianhae.” Ucap Hannah menunduk, menyesal.
“aaaiigggooo…” gumam Changmin
“ahhh…” gumam Jaejoong.
“apa sebaiknya kita pulang sekarang?” ajak Changmin.
“airmata nya akan turun, hatinya sudah menangis.” Gumam Jaejoong lagi.
“hatinya terluka.” Sambung Yunho dan Yoochun. Yunho langsung menarik ketiga member itu. Keluar. “ayo cepaatt !!!” seru Yunho.
“ahh.. tunggulah sebentar, dramanya belum selesai.” Protes Yoochun
“kau kira ini drama sungguhan ?! ayo cepat pulang !” bentak Jaejoong. Lalu mereka berjalan meninggalkan parkiran perlahan-lahan. Tanpa bersuara, setelai samapai di pintu keluar, mereka semua, bergegas lari. Changmin menengok kebelakang, hyung… Cassiopeia !!! “

***
“mengapa seperti ini ? benarkan apa yang saat ini aku dengar ? “ tapi kenapa Eunhyuk tidak mengatakan apapun kepada ku, soal kabar baik ini ? ada apa ini ?” gerutu Junsu pelan. “baiklah. Seperti nya sudah selesai” lanjutnya. Ia membalikkan badan, berniat meninggalkan Hannah. Bughhh… Hannah peluk Hannah dari belakang, mengikat dada Junsu dengan kedua tangannya.
“Junsu-ah… jeongmal mianhae, tidak ada alasanku untuk menyakitimu. Junsu melepaskan pelukan itu dan membalikkan tubuhnya ,menatap Hannah. “tapi sungguh… aku baik-baik saja” ucapnya tersenyum. Lalu Junsu mengecup kening Hannah. Hannah pun terkejut. Tampak jauh disana ada Eunhyuk berdiri. Dan Junsu memberi salam kepadanya dan Eunhyuk pun membalasnya. Tampak senyum dikedua belah pihak, “baiklah. Aku pergi.” Ujar Hannah.
“ya. Sampai jumpa.” Jawab junsu.
***
Junsu pun keluar dari tempat parkiran itu, ia membutuhkan udara baru. Bukan udara kesedihan dan ketegangan. Ia melamun, Bughh..” ah.. mian…” tanpa melihat siapa yang ia tabrak. Ia terus berjalan. Dan tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya.
“hyung, bagaimana, jadi makan.?”
“kau disini ? membuntutiku ?”
“ah.. aniyo… bukankan aku tadi aku menelpon mu ?”
“ahh yaa.. aku lupa.”
“baru tadi saja sudah lupa.” Gerutu Changmin.

***
“dimana Changmin ?” tanya Yunho lelah, mengatur nasfasnya yang terengah-engah. Karena Yunho, Jaejoong dan Yoochun berlari, untuk cepat sampai di tempat mereka dan bisa lepas sari kejaran fans mereka yang begitu banyak.
“ahh.. merepotkan saja changmin ini.” Gumam Jaejoong.

***
“Changmin, sudah selesai ?, sisanya dibungkus saja yaa…aku sedang tidak enak badan.”
“ah… iya hyung, lagian aku lebih puas makan dirumah, hehehe”
“ahjussi..” panggil Changmin kepada paman café. “ahjussi itu pun mendekat “tolong bungkuskan semua makan ini.” Lanjut Changmin. “baik” jawab ahjussi itu. Setelah selesai, Junsu dan Changmin pun keluar dari café itu. Changmin terus memperhatikan hyung nya itu, Junsu terlihat murung. Changmin merasakan itu. Namun, Changmin hanya diam. Membiarkan Junsu menenangkan dirinya. “pandanganmu menyeramkan changmin.” Tegur Junsu. Changmin kaget.  “Ternyata hyung  memperhatikan aku.” Dalam hatinya.

***

Junsu dan Changmin pun memasuki kediaman mereka. Yunho, Yoochun dan Jaejoong sedang menonton diruang TV. “kau sudah pulang Junsu ah” sapa Yunho. Setelah menyapa Junsu, Yunho, Jaejoong dan Yoochun melirik tajam Changmin, Changmin gemetar. “ya” jawab Junsu. Lalu Junsu berjalan menuju keran untuk mencuci muka.
“Junsu ah.. apakah terjadi sesuatu ?” tanya Jaejoong. Semua member kemudian berkumpul duduk dibawah karpet, dan Junsu menyusul.
“hari ini aku punya janji dengan seorang yeoja.” Kemudian ia menceritakan semua yang terjadi pada saat ia bersama yeoja itu. Bahkan saat ia dan Hannah ada di parkiran itu. Padahal semua member sudah tahu. Hatinya sakit. Ia menangis. Jaejoong memeluknya, kemudian semua member pun ikut memeluknya. “Junsu ah! Semua pasti akan baik-baik saja. Mencintai seseorang adalah hal yang wajar, itu sudah manusiawi. “ ujar Jaejoong simpati. “cinta itu juga bisa berevolusi, Tuhan yang memberi, kita yang menjalani dan Tuhan pula yang memutuskan.” Lanjutnya. Junsu hanya diam. “saat ini aku tak bisa melakukan apapun, apa yang harus aku lakukan ?” eluh Junsu. “hyung, sebelumnya kau tidak pernah seperti ini..” komentar changmin. “Junsu ah, tersenyumlah, tersenyum akan sedikit memberi kita ketenangan.” Ujar Yoochun tersenyum. “ya, tenanglah semua akan baik-baik saja.” Tambah Yunho. “terima kasih, aku menyayangi kalian.”

***

Read More